Sekolah Alam Mang Iding Untuk Masa Depan Kampung Pasir Manggis Bogor


Kondisi geografis permukiman warga Kampung Pasir Manggis, Desa Batulayang, Kecamatan Cisarua membuat sebagian besar anak-anak berusia dibawah 6 tahun ini kesulitan mengenyam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) lantaran jarak tempuh sekolah cukup jauh.

Namun hal itu bukanlah hambatan berarti bagi para orang tua untuk memenuhi kebutuhan pendidikan bagi anak-anak mereka, terlebih sudah hampir dua tahun terakhir terdapat Sekolah Alam Mang Iding yang lokasinya cukup dekat dengan rumah mereka.

Sekolah Alam Mang Iding merupakan suatu PKBM ( Pusat Kegiatan Belajar Masyrakat ) nonformal yang berada di area Lembah Pertiwi , Batulayang Cisarua, Bogor, dengan program-program belajar untuk masyarakat desa, dengan sasaran peserta usia Dini hingga para orangtua yang berminat untuk mengembangkan potensi diri ataupun meningkatkan “Life Skill”.

Tidak tanggung-tanggung, sekolah alam ini pernah dikunjungi tokoh bahkan digandrungi aktor, aktris dan kalangan jurnalis nasional yang menyempatkan diri bercengkerama dan belajar bersama puluhan anak desa ini. Diantaranya, Menpora Adiyaksa Daud, Kompas TV Maman Suparman, Aktor senior Dedy Mizwar, Aktris farah Quinn, dan sejumlah artis nasional lainnya.

“Disini anak-anak saya bisa belajar membaca dan menulis sambil mengenal alam lebih dekat, bahkan tidak dipungut biaya sepeserpun,” ujar Atang (48) warga Rw 01.

Hal senada dikatakan Muflih (46) warga setempat yang mengaku bersyukur adanya sekolah alam yang lokasinya tak jauh dari tempat tinggalnya. “Setiap hari senin dan rabu anak disini bisa berkumpul bersama teman-temannya untuk belajar menanam dan merawat pohon,” katanya gembira.

Bukan hanya itu, keberadaan sekolah alam yang terletak diperbukitan dengan ketinggian sekitar 1030 meter dari permukaan air laut ini juga sebagai ajang mempererat tali silaturahmi antar orangtua murid yang kerap menghantarkan anak-anaknya ke lokasi belajar.

Lokasi sekolah alam ini berada diperbukitan yang berbatasan antara Desa Megamendung, Kecamatan Megamendung dengan Desa Batulayang, Kecamatan Cisarua. Sedangkan untuk berjalan ke sekolah PAUD yang ada harus menempuh jarak tempuh ratusan meter.

“Alhamdulillah, sekolah alam ini membantu anak-anak kampung disini tanpa harus berjalan kaki hingga ratusan meter jauhnya,” katanya.

Menurut pendirinya, Mang Iding membangun sekolah alam ini untuk masa depan anak-anak Kampung Pasir Manggis. “Anak-anak adalah aset bangsa, merekalah yang nantinya akan membangun kampung halamannya sendiri. Jangan lantaran jarak ke sekolah yang jauh lantas tidak mengenyam pendidikan sejak dini,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, kedatangan tokoh maupun artis sebagai empati mereka sekaligus memberikan motivasi bagi anak-anak desa bahwa tokoh dan artis adalah manusia biasa dan mereka juga bisa menjadi seorang tokoh atau artis kelak. “Semua itu dimulai dengan belajar dan lebih giat belajar sejak usia dini,” kata mang Iding.

Meskipun letaknya dipedesaan, namun konsep sekolah alam ini lebih fokus membangun pondasi bagi pembentukan dan kondisi fisik, kualitas mental, penanaman nilai moral anak dibawah usia 3 tahun.

“Dalam kelompok usia 3 – 6 tahun bimbingan berfokus pada kemampuan beradaptasi pada lingkungannya, pemantapan penggunaan panca indra, pengenalan kemampuan motorik halus dan kasar, membiasakan komunikasi dengan bukan anggota keluarganya, belajar menjalin pertemanan, pengenalan diri, pengembangan emosi, mengenali masalah serta penanaman berbagai jenis intelegensia,” jelasnya.

Menurut dia, anak dalam usia dini di berikan kesempatan untuk mempelajari, merasakan, melampaui berbagai keadaan maupun masalah ( to experience ), mereka harus mengadakan penjelajahan dalam berbagai situasi dan masalah, mampu menciptakan dan menghadapi tantangan ( to exsplore ). Mereka harus mendapat kesempatan seluas-luasnya dalam menimba dan menghimpun sebanyak-banyaknya pengalaman.

Pelaksanaan diberikan dengan pemberian contoh dan di laksanakan secara konsisten. Contoh kebersihan dan kerapihan, berbagi pengenalan tahapan etika, sikap dalam pergaulan, ( empaty, peduli pada sesama, berbagi dan sabar ).

“Contohnya, bertani, benih yang baik muncul hasil yang baik pula, menaman yang benar, pemupukan yang sesuai, perawatan dan penjagaan yang penuh dengan dedikasi dan sikap disiplin yang tinggi,” tambahnya.

Selain itu, sambung Mang Iding, kerjasama empati, penghargaan terhadap proses kesabaran ( untuk menunggu hasil dan berkesempatan belajar dari kesalahan serta mengambil hikmah jika terjadi kegagalan ).

“Termasuk membiasakan anak untuk saling memaafkan, saling mendo’akan sesama dan menjaga lingkungan sekitarnya,” tambahnya. (bbc/hen)