Rumah Kahuripan di Kecamatan Ciseeng Kabupaten Bogor, menjadi saksi para budayawan sunda dalam melestarikan warisan leluhur

istanabogorBogor – Rumah Kahuripan di Kecamatan Ciseeng Kabupaten Bogor, menjadi saksi para budayawan sunda dalam melestarikan warisan leluhur.

Para budayawan Bogor hadir untuk mengikrarkan diri melestarikan budaya, seperti pusaka dan cagar dalam sebuah pameran di Rumah Kahuripan (6/12).

Dalam acara tersebut Wakil Bupati Bogor Karyawan Faturachman yang juga Budayawan Bogor mengatakan, dalam keterpurukan Indonesia kita merasakan si semua lini kita buruk, seperti kesehatan, kemiskinan, dan keamanan. Kenapa demikian karena kita tidak bangun dari rasa. Maka semua itu tidak bisa menjadikan kembali bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Dalam kondisi seperti ini kita hanya bisa bangkit dengan budaya.

“Mumpung saya menjadi kepala daerah, saya akan mengabdikan diri kepada budaya. Kita akan mulai babak baru untuk mewariskan budaya kepada anak cucu kita. Anak cucu kita harus tau Indonesia tidak ujug-ujug ada melankan ada perjalanan, ada proses. Dengan begitu mari kita bangkit dengan budaya”, tandasnya.

Kemudian mengenai wawasannya soal budaya, ia mengaku, suatu ketika dirinya menerima sebuah keris dari seseorang. Dengan ketidak tahuan dan ketidak pahaman, saya terima keris kuno itu. Sejak saat itu dirinya tergugah, bagaimana jika benda ini jatuh ke tangan kolektor, ini hanya akan menjadi barang dagangan.

“Sejak itu saya sering menerima pusaka-pusaka seperti keris, kujang, tombak dan lain sebagainya, dan sampai hari ini benda tersebut ada 900 pucuk. Dengan pemikiran sederhana, agar pusak-pusaka tersebut bisa lestari dan diwariskan kepada anak cucu kita sebagai pengetahuan. Akhirnya dari sanalah saya belajar apa itu budaya”, terangnya.

Selanjutnya KF juga menjelaskan tentang seni dan rasa, yang menurutnya seni adalah keindahan yang merupakan ekspresi dari jiwa. Seni bisa ditularkan dari hati, maka seni memiliki nilai sangat tinggi karena seni pun adalah bagian dari peradaban. Kemudian soal rasa bukanlah bicara ketimuran, di Eropa, Amerika dan Afrika pun ada rasa karena ini sifatnya universal. Rasa adalah bagian dari nilai luhur dan itu adalah warisan, alangkah tidak baiknya kita jika tidak mewarisi warisan orang tua kita.

Selain KF, aktifis budaya, Sofi Sarwono pun angkat bicara. Menurutnya, masih ada yang bersedia mengisi kekosongan budaya kita untuk memperkaya masa kini dan masa depan. Indonesia harus bersatu itulah pemikiran Bung Karno saat itu.

“Anak muda tolong perkuatkan Pancasila, Karena kalau itu diabaikan kita tidak tau apa yang akan terjadi dengan negara ini. Kemudian jadikan Bogor menjadi bagian penting dalam peta the heritage dunia”, papar perempuan berusia 90 tahun ini.

Sementara salah satu Tim Nasional Cagar Budaya, Tamalia Ali Sabana memaparkan, ini adalah langkah yang patut dihargai. Membangun rumah kahuripan untuk melestarika kebudayaan sunda adalah ide yang cemerlang.

“Saya sangat senang dapat bertemu sesepuh adat sunda di Rumah Kahuripan Ini. Jangan patah semangat kita harus terus melestarikan adat kesenian adat budaya kita, karena itu adalah identitas bangsa Indonesia”, papar Tamalia.

Dalam Pameran Pusaka Budaya Bogor dan Pelestaria Pusaka Indonesia tahun 2012 ini hadir para sesepuh dan budayawan bogor. Selain itu hadir juga delegasi negara tetangga dan perwakilan dari UNESCO. Acara diwarnai pertujukan tarian sunda, pencak silat, wayang golek dan kesenian sunda lainnya. (rido/ice)