Terapkan K3 Keselamatan Kerja di Lokasi Pekerjaan Konstruksi

Selamat Berkat K3

Tidak ada firasat sebelumnya. Di pagi yang agak mendung itu, Tarjo dan Maman seperti biasa pergi ke tempat bekerja di sebuah pembangunan apartemen di wilayah Jakarta Selatan.
Memasuki area pembangunan apartemen yang menjulang tinggi, dibandingkan dengan gedung-gedung yang berada di sekitarnya.

Kedua pekerja asal dari Cilacap, Jawa Tengah itu memulai pekerjaan dengan mengisi absensi masuk kerja, dilanjutkan dengan memakai pakaian kerja lengkap berbagai peralatan kerja. Waktu masih menunjukkan pukul 09 pagi. Cuaca mendung itu pecah seketika, ketika tiba-tiba terdengar suara benda keras terjatuh “bruak…”.

Sontak semua mata pekerja mencari ke arah suara tersebut. Dan, lantai lima sudah banyak pekerja yang mencari sumber suara, dan dari kejauhan di bawah reruntuhan baja penyangga terlihat dengan jelas sesosok jasad yang sudah tidak bergerak, Tarjo ternyata korbannya.

“Saya bersyukur bisa selamat, ini benar-benar kehidupan kedua saya dan sebagai manusia waktu itu hanya ingat memakai helm dan sabuk pengaman,” kata Manan dengan berkaca-kaca.

Setelah kejadian itu, lanjut Maman, dirinya pulang dan berkumpul bersama keluarga besar untuk mengadakan syukuran selamat dari kecelakaan maut. Dan, dirinya sadar alat keselamatan
dalam bekerja terlebih pekerja konstruksi merupakan kebutuhan untuk alat keselamatan.

“Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menjadi kebutuhan kerja dengan memakai berbagai alat keselamatan kerja. Terkadang alat keselamatan sering dianggap sepele dan mengganggu
kerja, padahal untuk keselamatan kita,” ujar dia.

Hingga kini, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi merilis data kecelakaan kerja di Indonesia yang masih tinggi. Akhir tahun lalu, tercatat 96.400 kecelakaan kerja. Dari 96.400 kecelakaan kerja yang terjadi, sebanyak 2.144 di antaranya meninggal dunia dan 42 lainnya cacat. Sehingga sampai dengan September 2012 angka kecelakaan kerja masih tinggi, berada dikisaran 80.000 kasus.

Internasional Labor Organization (ILO) dalam kurun waktu rata-rata per tahun terdapat 99.000 kasus kecelakaan kerja dan 70 persen di antaranya berakibat fatal yaitu kematian dan cacat seumur hidup. Total kerugian sangat yaitu Rp 280 triliun. Pemerintah mengajak semua perusahaan untuk melakukan pengamanan pada sektor tenaga kerja dengan menambah anggaran keselamatan kerja para tenaga kerjanya dan penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang selama ini masih dipandang lemah.

Dari berbagai kecelakaan yang terjadi di Indonesia, dapat dipastikan kecelakaan terbesar terjadi di sektor konstruksi. Hal itu terjadi sebagai dampak dari maraknya berbagai pembangunan berbagai bangunan tinggai di kotakota besar, termasuk DKI Jakarta.

“Korban yang paling banyak merupakan para pekerja konstruksi. Untuk itu, kenyamanan dan pengamanan para tenaga kerja itu penting, salah satu yang harus dilakukan adalah menambah
anggaran di setiap perusahaan agar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) bisa dijalankan secara optimal,” kata Menakertrans Muhaimin Iskandar di Jakarta.

Pelaksanaan K3, merupakan upaya memenuhi hak-hak dasar dan perlindungan tenaga kerja guna meningkatkan harkat, martabat dan harga diri para tenaga kerja. Juga, untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur dan merata baik materil dan spiritual.

Penulis: Beritasatu.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s