Kembangkan Hotel Budget, Pengembang Nikmati Gurihnya Bisnis Hotel

Sejumlah pengembang kelas kakap telah melebarkan sayapnya untuk masuk ke dalam bisnis hotel bertarif murah ini.

Menjamurnya hotel-hotel baru bertarif ekonomis (bujet) menjadi fenomena baru. Bujet hotel mulai dikelola dengan baik dan berfasilitas lengkap. Hal itu sejalan dengan tingginya aktivitas bisnis dan tingkat kunjungan wisata, berkat perekonomian yang kondusif.

Pelaku industri hospitality mulai sadar, hotel is service business. Dengan terminologi itu, mereka tidak lagi menyajikan layanan dan fasilitas hotel seadanya. Perspektif mereka mulai berubah dengan memberikan kualitas lebih baik dalam pengelolaan. Mereka juga sadar pangsa pasar bujet hotel sangat besar.

Gurihnya bisnis hotel murah ini telah memicu ketertarikan para pengembang kakap, misalnya Grup Ciputra, PT Intiland Development Tbk, Sahid Group, PT Metropolitan Land Tbk, dan lainnya. Mereka turut menggandeng sejumlah operator hotel ternama baik lokal dan internasional untuk memperluas pasar.

Direktur PT Ciputra Property Tbk Artadinata Djangkar mengakui, hotel bujet menjadi salah satu fokus utama perseroan selain mengembangkan proyek skala besar seperti superblok Ciputra World Jakarta.

“Saat ini, sudah ada delapan hotel bujet yang sedang kami bangun di sejumlah kota. Pasarnya di kelas menengah yang membutuhkan hotel dengan tarif terjangkau,” ujar Arta seperti dikutip dari laman Investor Daily.

Arta menerangkan, pihaknya sudah memutuskan nama hotel bujet yang dikembangkan Ciputra tersebut namun belum bisa diumumkan kepada publik.

“Tidak lama lagi akan kami umumkan. Yang jelas tidak ada embel-embel Ciputra Hotel karena nama itu sudah dipakai untuk bintang empat,” tegas dia.

Grup Ciputra berencana membangun 20 hotel ekonomis dengan investasi sekitar Rp 800 miliar dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Langkah ekspansi bisnis ini dilakukan guna meningkatkan pendapatan berulang (recurring income) perseroan.

“Meningkatnya trafik kunjungan pebisnis maupun wisatawan asing dan domestik mendorong kami mengembangkan hotel ekonomis ini. Faktanya, dalam perjalanan itu, tidak hanya kalangan manajer ke atas saja, tetapi juga bawahannya. Ini menjadi perhatian kami,” papar dia.

Sebagai langkah awal, perseroan akan membangun bujet hotel di Bandung, Yogyakarta, dan Semarang. Sementara di Kalimantan dan Sumatera tengah dinegosiasikan. Kota yang diincar antara lain Balikpapan dan Samarinda di Kalimantan serta Pekanbaru, Palembang, dan Medan di Sumatera.

Hotel-hotel ekonomis ini direncanakan dibangun berketinggian 10-12 lantai dengan jumlah kamar sekitar 120-140 unit. Adapun tarif hotel ekonomis Ciputra ini dipatok sekitar Rp 300.000- 400.000 per malam.

Sementara itu, PT Intiwhiz International (anak usaha Intiland) berencana membangun 60 hotel dengan brand Whiz hingga lima tahun ke depan. Tahun 2012 sudah ada komitmen kerja sama sebanyak 19 hotel di berbagai daerah di Indonesia.

Sekretaris Perusahaan Intiland Theresia Rustandi mengakui, pengembangan 60 hotel tersebut dimulai sejak tahun 2010. Sedangkan pada tahun 2012 akan ada 19 kerja sama untuk kembangkan Hotel Whiz. Investasi pembangunan ditaksir Rp 50 miliar, sedangkan brand Grand Whiz sekitar Rp 60-70 miliar.

“Jumlah itu termasuk yang akan dibuka lima hotel dan beberapa yang masuk tahap konstruksi maupun groundbreaking,” jelas dia.

Hotel-hotel yang akan dikembangkan perseroan di antaranya berada di Legian, Nusa Dua, Cikini, Kelapa Gading, Bogor, Manado, Samarinda, dan Makassar.

“Pembukaan hotel ini akan meningkatkan recurring income kami menjadi 30% dari sebelumnya hanya 10%,” terang Theresia.

Lain lagi kisah dari Direktur Utama Metland Nanda Widya. Dia mengungkapkan, Horison Jakarta merupakan salah satu jaringan hotel milik Metland yang siap dikembangkan dalam lima tahun ke depan.

Selain Horison Jakarta, ada kondominium hotel (kondotel) Horison Seminyak, Horison Bekasi Extention, ser ta jumlah hotel bertarif ekonomi (hotel bujet) dengan merek Reddot, @home, dan Horison bintang tiga.

“Kami menargetkan bisa membangun dua kondotel dan lima hotel bujet setiap tahun. Pengembangan jaringan perhotelan merupakan upaya menaikkan pendapatan berulang (recurring income) menjadi 15% pada tahun ini,” kata Nanda Widya.

Investasi di hotel kelas ini diyakini sangat menguntungkan. Area yang dibutuhkan cukup berkisar 850–2200 m2. Bangunan tidak harus tinggi, jadi ongkos konstruksinya bisa minimal.

Di luar tanah, biaya pembangunannya paling banter Rp 50 miliar dan maksimal Rp70-90 miliar. Masa pengembalian investasi tak sampai lima tahun.

Bandingkan dengan bangun hotel bintang lima, yang perlu 8-10 tahun. Tenaga kerja yang dibutuhkan dalam pengoperasian hotel bujet juga lebih sedikit. Satu orang bisa dikaryakan menangani tiga kamar. Sementara satu kamar hotel bintang lima harus ditangani dua orang pekerja.

Begitu pula profit dari ongkos operasionalnya. Lebih menggiurkan. Kalau hotel bintang 4 atau lima paling tinggi 40%, hotel murah ini justru bisa mencapai 60%.

Dengan hitung-hitungan demikian, tak heran jika Aston International punya target dan rencana bakal mengembang- kan 400 favehotel hingga sebelum 2020. Saat ini sudah dibuka adalah favehotel di Seminyak, Bali, mengikuti Favehotel Legian yang akan buka tahun depan.

Berturut-turut kemudian di Surabaya, Ambon, dan beberapa kota lainnya Inilah ceruk pasar yang menempati posisi piramida paling bawah yang dipandang oleh PT Grahawita Santika (operator Amaris Hotel) sebagai captive market yang terlalu besar untuk diacuhkan begitu saja.

Bahkan, perintis bujet hotel, Accor Group, lebih dulu eksis dengan Formule-1 (Ibis budget) juga menambah jaringan hotel Ibis dengan kategori bintang dua dan tiga. Redefinisi konsep hotel ramah biaya ini juga dilakukan oleh Tauzia Hotel Management yang mengelola POP!. Konsep hotel yang diperkenalkan adalah easy life, edgy lifestyle dan concern to environment.

Ukuran kamarnya POP! cukup mungil, sama seperti @HOM, Reddot, atau Maxone Hotels.com yakni 15 m2. Didesain kompak, dengan kasur berkualitas terbaik, termasuk linen-nya. Tersedia TV plasma yang ditempel di dinding seberang tempat tidur. Kamar mandinya berbentuk showerpod, yang khusus didesain dan diimpor.

Dengan kondisi kualitas sedemikian rupa, investasi senilai kurang dari Rp50 miliar, menjadi kecil artinya ketika sudah dihadapkan pada tingkat keterisian yang tinggi.
Hal serupa dilakukan Aston International. Jaringan hotel ini melahirkan favehotel yang diperuntukan bagi business and holiday travelers.

Menurut Vice President Sales & Marketing Aston International, Norbert Vas, favehotel adalah konsep baru yang bisa disetarakan dengan kelas bintang dua.

“Good accomodation, good services but low cost. Ada akomodasi dan fasilitas yang lengkap seperti akses inter net,” ujar dia.

Operator perhotelan, PHM Hospitality, menargetkan mengelola 15 hotel The BnB di sejumlah kota besar di Indonesia hingga 2015. Properti The BnB yang pertama dibuka berlokasi di Kelapa Gading, Jakarta Utara. The BnB adalah merek baru dari PHM Hospitality setelah sukses dengan brand The Haven dan The101.

Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda membenarkan, potensi semua daerah di Indonesia cukup besar untuk pangsa pasar bujet hotel.

“Tahun depan kondisi ekonomi diprediksi masih bagus untuk bisnis dan wisata. Dengan demikian, tingkat kebutuhan bujet hotel masih tinggi,” kata dia.

Meskipun pasar bujet hotel masih positif pada tahun depan, namun bila konstruksi mulai dilakukan pada tahun itu, maka proyeknya diprediksi telat mengambil pasar potensial. Seharusnya bujet hotel bisa rampung pada 2013 untuk menyambut pasar MICE yang terus naik.

“Pasar bujet hotel untuk 2013 masih bagus terutama untuk yang mulai opening. Sedangkan bila baru dibangun pada tahun depan, diperkirakan telat mengambil momentum bagus,” imbuh Ali.

Research Department Manager Colliers International, Ferry Salanto menambahkan, kota-kota bisnis seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Balikpapan, dan Makassar, cocok untuk dibangun hotel jenis ini.

Di Jakarta saja, tingkat okupansinya cukup tinggi, sekitar 85%. Artinya antara pasok jumlah kamar dan tingkat penyerapan cukup sehat. Sampai akhir tahun 2011 sekitar 868 kamar yang mengakomodasi para pebisnis level menengah ke bawah.

“Karena memang pada dasarnya, pasar yang dibidik adalah pebisnis yang concern dengan biaya,” ujar Ferry.(BeritaSatu/SID/Ely Rachmawati/Feriawan Hidayat)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s