Tanaman Bambu Mampu Cegah Krisis Air dan Lingkungan

Bambu adalah berkah dan anugerah bagi bangsa Indonesia. China boleh dijuluki Negeri Tirai Bambu, tapi Indonesia justeru surganya tanaman bambu. Ini berdasarkan pada kesempurnaan keberagaman jenis dan bentuk bambu. Dan, dilihat dari keeratan hubungan antara bambu dan masyarakat Indonesia, itu menjadi sarat makna.

Peneliti tanaman bambu dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Elizabeth A Widjadja menyebutkan, ada sekitar 1.500-an jenis bambu di dunia. Indonesia memiliki sekitar 157 jenis bambu, 60-70 di antaranya adalah spesies endemik Indonesia.
Bambu adalah budaya. Sesepuh masyarakat Cimande, H Gufron mengungkapkan, keakraban hubungan antara bambu dan masyarakat Indonesia sudah ada sejak kepemimpinan Prabu Haur Koneng (bambu Haur berwarna kuning), keturunan Kerajaan Padjajaran yang berkuasa sekitar abad ke-11. Di sekeliling kota kerajaannya sengaja dikelilingi bambu Haur Kuning dan bambu Haur Gereng sebagai benteng pertahanan, karena tumbuh sangat rapat dan berduri.

Pada zaman Prabu Nusiamulya (Eyang Seda) abad ke-15, bambu Haur Kuning bahkan sangat disakralkan dan dijadikan penolak bala. Mitos ini nyatanya masih terbawa sampai sekarang dan dipercaya oleh sebagian orang.

Demikian pula sejak Kerajaan Salakanagara di Pandeglang, Banten, sebelum abad Masehi, hingga Kerajaan Jayasinga di Jasinga, Bogor pada tahun 130-an, serta Kerajaan Tarumanegara di Bekasi, sudah dikenal bambu dengan sebutan awi atau ajang wiwitan (yang pertama ada atau yang harus diolah dengan baik). Maka, pada saat itu sudah ada alat transportasi berupa rakit, tempat air minum berupa lodong, pancuran air dan rancatan (alat panggul) terbuat dari bambu.

Bagi masyarakat Sunda, bambu tak bisa dilepaskan dari sejak lahir sampai meninggalnya. Bambu tak bisa dipisahkan pula dari adat dan budaya masyarakat Cimande. Bambu selalu digunakan dalam latihan Pencak Silat Cimande, pembuatan Minyak Cimande, hingga disebut dalam falsafah-falsafah Kasepuhan Cimande.

Masyarakat Indonesia sudah akrab dengan perabotan rumah tangga, anyam-anyaman, dan konstruksi bangunan yang terbuat dari bambu. Ratusan alat musik tradisional di Indonesia, khususnya khas Jawa Barat, mayoritas terbuat dari bambu, seperti Suling, Celempung, Calung, Karinding, atau Hatong.

Beberapa tokoh Sunda yang dipimpin Mang Udjo dan beberapa artis pendukung, bahkan mampu memukau dunia. Mereka mampu mengumpulkan 5.182 penduduk Amerika untuk memainkan Angklung pada Juli 2011 hingga tercatat dalam The World Guiness Book of the Records.

Pada 2009, Ade Suarsa dari KotaBogor juga berhasil menyiptakan kesenian Langgir Badong, yakni alat musik yang terbuat dari bambu, berbentuk Kalanjengking yang digendong.

Satu hal yang tak bisa dilupakan, bambu memiliki ikatan sejarah yang luar biasa dengan bangsa Indonesia. Para pejuang mampu merebut kemerdekaan dengan Bambu Runcing. Arek-arek Suroboyo menjadikan Bambu Runcing sebagai senjata pamungkas mengusir arogansi penjajahan Jepang dan Belanda. Dengan semangat membara: Merdeka atawa Mati, mereka meluluhlantakkan penjajah yang dilengkapi senjata modern.
Bambu adalah kebanggaan bangsa, nasionalisme, dan reputasi negeri.

Mengatasi Krisis Ekonomi
Sebagian masyarakat masih punya anggapan keliru tentang eksistensi dan potensi bambu. Bambu dianggap seperti rumput liar dan tak memiliki nilai ekonomis. Hanya sedikit saja yang rutin menanamnya dan mampu memuliakannya. Padahal, kekayaan bambu yang dimiliki Indonesia dapat disulap menjadi sumber ekonomi yang tidak main-main potensinya. Bambu mudah ditanam, cepat tumbuh, dan tak repot merawatnya.

Maka, bukan tanpa alasan, kalau negara-negara, seperti Jepang, RRC, Taiwan, Vietnam, Thailand, Malaysia, Amerika Serikat, dan negara-negara di benua Eropa berlomba-lomba mengembangkan bisnis bambu dan membuka lahan perkebunan bambu secara serius.
Sebetulnya sebagian peneliti kita sudah mulai berkiprah dengan bambu. Peneliti Institut Pertanian Bogor, Prof DR Muh Yusram Massijaya bersama stafnya, DR Ir Jajang Suryana sudah mampu membuat keramik yang terbuat dari bambu (parkit).

“Kami sudah 10 tahun melakukan penelitian ini. Sekarang, saya sudah mendaftarkannya untuk dipatenkan. Keramik parkit dari bambu ini memiliki keunggulan komparatif yang lebih murah, tetapi tetap daya tahannya tak kalah dengan keramik umumnya,” kata Yusram yang ditemui Jurnal Bogor di Fakultas Kehutanan IPB, Dramaga, Bogor.

Keramik parkit bambu sangat berprospek. Swedia sudah memesan 3.000 meter kubik perbulan. “Tapi, kami belum bisa menyanggupi, karena terkendala permodalan. Harganya juga cukup murah, Rp150 ribu permeterkubik, dengan biaya produksi Rp100 ribu permeter. Lebih murah dibandingkan harga keramik parkit umumnya di toko-toko,” jelas Jajang.
Terpisah, pakar dan praktisi bambu asal Bogor, H Jatnika Nanggamihardja mengemukakan, bambu bisa menjadi salahsatu sumber solusi untuk mengentaskan kemiskinan dan pengangguran yang masih tinggi di Indonesia. “Bambu bisa mengatasi krisis ekonomi,” ujar Jatnika yang ditemui Jurnal Bogor di rumahnya, di tepi Sungai Ciliwung, Sukahati, Cibinong, Kabupaten Bogor, Sabtu (17/11/12).

Kalau hari ini kita sudah punya bambu seribu rumpun (1 rumpun 50-70 batang), maka setiap tahun akan mendapatkan seribu kali 50 batang (50.000 batang). Katakanlah yang kita tebang hanya 30 batang, maka jika bambu yang diameternya 7-8 centimeter harganya @Rp10.000, berarti satu tahun memeroleh 30.000 batang kali @Rp10.000, hasilnya Rp300 juta. Sangat luar biasa!

Apabila disentuh dengan kreativitas yang minimal, misalnya dibuat kipas untuk souvenir, maka angka di atas akan berubah jadi miliar. Dan, akan lebih fantastis lagi, jika disentuh dengan kreativitas yang tinggi serta dukungan yang optimal.

Kalau satu batang bambu tali dibuat untuk kipas souvenir, sebatang bambu bisa menjadi 300 kipas. Harga satu kipas @Rp5.000 dikali 300 kipas, hasilnya Rp1.500.000, dikalikan setahun sebanyak 30.000 batang, maka akan menghasilkan Rp45 miliar. “Ini contoh untuk dijadikan referensi bahwa bambu sangat bernilai ekonomis. Sebab, saat ini masih banyak pihak yang masih meragukan nilai ekonomis bambu,” tegasnya.

Peluang usaha di bidang usaha bambu memang masih terbuka lebar, namun belum bisa tergarap optimal. “Andai saja semua sekolah di Indonesia diwajibkan memiliki Angklung, tentu akan menjadi peluang yang dapat menyerap tenaga kerja besar-besaran. Dari 14 sektor ekonomi kreatif yang ditetapkan pemerintah, menurut saya, peranan bambu sangat sentral di sini,” tandas Jatnika.

Bambu memang sudah mendarahdaging bagi pria yang dijuluki pendekar bambu ini. Bukan saja lantaran dirinya begitu memahami sifat dan karakteristik bambu, memainkan semua jenis alat musik bambu, hingga mampu memaknai falsafah-falsafah dan budaya bambu, Jatnika salahsatu petani bambu yang sukses dengan bisnis rumah bambunya.
“Kalau ditaksir secara kasar, dari 1985 sampai sekarang, tak kurang dari 3.775 rumah bambu yang saya bangun dengan berbagai model, seperti Gazebo, Musholla, Masjid, Guest House, Aula, Rumah Singgah, Ranggon, Saung, Restoran, Minimarket, Vila di dalam dan di luar negeri,” ungkap Pimpinan Yayasan Bambu Indonesia ini.

Malah, pria yang rutin memberikan pelatihan perbambuan dua kali dalam sebulan ini mengaku keteter dalam memenuhi order pembangunan rumah bambu, baik di tingkat domestik maupun mancanegara. Permintaan dunia akan bambu juga sangat tinggi, dan dari waktu ke waktu terus meningkat. Eropa saja membutuhkan 700 ton panel bambu perbulan atau 8,4 juta ton pertahun, sementara Amerika Serikat membutuhkan 20 juta ton pertahun.

Sejak 2009, orang-orang Malaysia terus berdatangan ke Indonesia untuk belajar budidaya bambu, pengawetan, dan pengembangan usaha bambu. Bahkan, Perdana Menteri Malaysia menyanangkan ’2000’ sebagai Tahun Kreativiti dan Innovasi yang mana bambu menjadi prioritas. Sementara China sudah mampu membuat kertas dan pakaian dari serat bambu.
“Persoalannya, selama ini kita terbentur ketersediaan tenaga ahli dan bahan baku. Saat ini kita kesulitan saat membutuhkan bibit tanaman bambu dalam jumlah besar. Kalaupun ada, harus beli ke orang Belgia di Sleman. Nah, kenapa ini bisa dilakukan orang luar?” tandas Jatnika yang kini memuliakan 37 spesies bambu.

Pemerintah sudah saatnya memberlakukan proteksi terhadap pelestarian, perlindungan, dan pengembangan bambu, lantaran sudah tak seimbang antara urgensi dan perlindungannya. Di samping belum terintegrasikannya antara petani bambu, pengrajin, dan ilmuwan. “Kondisinya sudah darurat. Dari ratusan jenis bambu yang dimiliki Indonesia, sekitar 37 jenis bambu terancam punah, seperti Haur Gereng, Haur Duri, Haur Tutul, dan Lengka. Saya tidak bisa membayangkan, jika bambu sudah tidak ada. Berarti, 80 persen budaya kita hilang. Ini urgensinya,” tegasnya. Saat ini, orang luar negeri masih bebas membeli bambu dalam berbagai bentuk, hasil kerajinannya sampai memboyong pengrajinnya dari Indonesia.

Disebutkan pula, saat ini ada proyek di PT Pelindo di Tanjung Priok, Jakarta yang membutuhkan 7 juta batang bambu. “Sudah ada 200 orang lebih dari Tanjung Priok datang kepada saya meminta bambu. Bisa dibayangkan, permintaannya sangat tinggi, tapi bambu tak ditanam. Seharusnya, tebang satu tanam satu. Jangan akhirnya justeru membabibuta melakukan penebangan bambu. Ini jelas mengancam lingkungan, budaya, dan pengrajin bambu. Semua pengrajin bambu mengeluh sekarang ini,” ungkap Jatnika.

Benchmark Konservasi
Dalam konteks lingkungan, tingkat kerusakan dan kualitas lingkungan hidup saat ini makin menurun dan menguatirkan. Degradasi hutan masih terus terjadi hingga menyebabkan bencana kekeringan, banjir dan longsor. “Kini sudah darurat. Harus ada upaya-upaya penegakan hukum di bidang lingkungan,” tegas Menteri Lingkungan Hidup, Balthasar Kambuaya di Megamendung, Kabupaten Bogor, Senin (26/11/12).
Nah, tanaman bambu ternyata memiliki peran dan fungsi yang sangat strategis untuk memperbaiki dan menyeimbangkan struktur udara, tanah, dan air. Pohon bambu bisa dijadikan benchmark (tolakukur) konservasi.

Jatnika menambahkan, tanaman bambu paling baik untuk penghijauan. Akar bambu mampu menahan tanah dan tebing agar tak terjadi longsor. Pohon bambu mampu menyerap dan menahan air paling banyak hingga 90 persen dibandingkan jenis pohon lainnya. ”Dalam satu rumpun bambu bisa menyimpan 5.000 liter air. Pohon bambu, bahkan mampu menjernihkan air. Matak baheula mah, mun hayang cai melak awi (makanya, dulu kalau mau dapat mata air, mesti menanam bambu),” ujarnya.

Hasil studi Akademi Beijing dan Xu xiaoging, tanaman bambu yang ditanam di sepanjang daerah aliran sungai ternyata mampu menambah 240 persen air bawah tanah. Demikian pula di India, Utthan Centre telah menyoba melakukan penanaman bambu seluas 106 hektare, dan dalam waktu 4 tahun permukaan air bawah tanah meningkat 6,3 meter.
Keunggulan lain dari bambu untuk lingkungan persatu batang pohon bambu mampu mengeluarkan sekitar 1,2 kilogram oksigen atau 35 persen lebih banyak daripada pohon lainnya. Apabila  dalam serumpun bambu ada 50-70 batang, maka satu rumpun bambu membantu untuk 200 orang bisa bernafas. “Dan, yang terpenting lainnya dari pohon bambu adalah meredam hawa panas bumi. Bambu itu anugerah. Tapi, sekarang banyak pohon bambu di gunung-gunung malah ditebang, akhirnya meletus, seperti di Yogyakarta,” ungkapnya.

Apabila belajar kepada begitu besarnya fungsi dan keunggulan bambu bagi penyelamatan lingkungan, seperti telah dibeberkan, sudah saatnya penanaman pohon untuk penghijauan beralih ke tanaman bambu. Pemerintah, lembaga swadaya masyarakat atau NGO, dan perusahaan-perusahaan industri berbasis pengolahan air minum bisa menjadi garda terdepan memanfaatkan bambu sebagai benchmark konservasi.

Haur Gereng di Hulu Ciliwung

Baru-baru ini, muncul wacana pembangunan waduk di kawasan Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor. Wacana ini dicetuskan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) dan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan untuk mengatasi banjir Jakarta.
Menurut Jatnika, megaproyek itu bisa saja menjadi sia-sia. Pasalnya, selain akan membuang uang rakyat miliaran, apabila tak dikaji dan dianalisa matang, malah akan membawa dampak sosial negatif.

Selama ini mungkin sudah ratusan kali pemerintah dan berbagai komunitas membahas persoalan Sungai Ciliwung dan Cisadane, dan mungkin sudah triliunan rupiah pemerintah mengeluarkan biaya untuk menyelamatkan Ciliwung-Cisadane. Namun, banjir tetap terjadi.
“Saya pernah menyarankan ke pemerintah agar menanam ratusan hektare Haur Gereng di hulu sungai. Haur Gereng adanya di Ujung Kulon, besarnya segede-gede paha. Biarkan saja tumbuh liar di kawasan Puncak dan di sepanjang aliran sungai. Kalaupun mau dipelihara, jaga oleh Kabuyutan yang disegani oleh masyarakat supaya tidak ditebang, karena sangat vital untuk menjaga lingkungan, sedangkan di kawasan pemukiman dan sepanjang daerah aliran sungai ditanam bambu-bambu jenis lain yang mudah dimanfaatkan untuk peningkatan ekonomi warga,” tuturnya.

Di samping itu, pemeliharaan Sungai Ciliwung diimbangi dengan upaya peningkatan kesadaran tidak membuang sampah ke sungai, membentuk petugas khusus penjaga sungai, menertibkan bangunan, dan penerapan aturan secara disiplin, tidak tumpang tindih.
“Mimpi dan cita-cita saya ada Kampung Bambu Terpadu. Di sana ada hutan wisata bambunya, terpadunya para peneliti, pemerintah, pengrajin, praktisi, budayawan, dan para designer,” tuturnya.(Acep Mulyana-JB)